Tumpek Wariga

Tumpek Wariga : Sang Hyang Sangkara Sebagai Dewa Tumbuhan

Tumpek Wariga dirayakan pada hari Saniscara Kliwon Wuku Warigadian, tepat 25 hari sebelum Hari Raya Galungan. Hari suci ini juga sering disebut sebagai Tumpek Uduh, Tumpek Bubuh atau Tumpek Pengatag. Pada Hari ini umat Hindu memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Sangkara, memohon anugerah untuk tumbuh-tumbuhan dapat berbuah dan tumbuh subur.

Sang Hyang Sangkara Sebagai Pelindung Tumbuh-Tumbuhan

Sang Hyang Sangkara adalah manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam tugas beliau sebagai pencipta dan pelindung segala tumbuh-tumbuhan yang ada di dunia. Dalam Dewata Nawa Sanga, Sang Hyang Sangkara menguasai arah Barat Laut. Aksara Suci beliau adalah “Si (Sing)”. Beliau digambarkan berwarna hijau dan memiliki senjata bernama Angkus. Di Bali, beliau dipuja di Pura Pucak Mangu sebagai salah satu bagian dari Catur Loka Pala.

Dalam Kitab Sundarigama disebutkan :
Wariga saniscara kliwon ngaran panguduh puja wali Sang Hyang Sangkara, apan sira amrtaken sarwaning tumuwuh, kayu-kayu kunang widhi widhanya : Pras tulung, sesayut, tumpeng, bubur mwang tumpengagung iwaknya guling bawi, itik wenang, saha raka, panyeneng tetabuh. Kalinganya anguduh ikang awoh mwang godong dadya pamrtaning hurip ring manusa, sesayut cakragni. Kalinganya anuduh kna adnyana sandhi

Artinya :
Wuku wariga yakni pada hari Saniscara Kliwon disebutlah hari panguduh, suatu hari untuk memuja Sanghyang Sangkara sebab beliaulah yang menciptakan segala tumbuh-tumbuhan termasuk kayu-kayuan. Adapun upakaranya peras, tulung, sesayut, tumpeng bubur dan tumpeng agung dengan daging babi atau itik diguling. Baik pula disertai raka-raka (jajan dan buah-buahan) penyeneng, tetebus dan sesayut caleragni. Adapun bebanten tersebut diatas ialah : mendoakan semoga atas rahmat Hyang Widhi maka segala tumbuh-tumbuhan dapat tumbuh subur, lebat buahnya bersemi dan dapat dimanfaatkan untuk kehidupan manusia dalam ketemtraman hati serta kesejahteraan lahir batin.

Pelaksanaan Hari Raya Tumpek Wariga

Berdasarkan kitab Sundarigama, upakara yang diperlukan pada hari Tumpek Wariga adalah sebagai berikut :
1. Peras, Tulung, Sayut
2. Tumpeng Agung
3. Bubur Sumsum
4. Babi / Itik guling sebagai ulam(daging)
4. Penyeneng
5. Tetebus dan Sesayut Caleragni.

Upakara yang digunakan pada satu daerah mungkin berbeda dengan daerah lainnya. Hal ini sesuai dengan konsep desa kala patra.

Berdasarkan laman web mantrahindu.com, banten atau upakara saat tumpek wariga dihaturkan menghadap barat laut (kaja kauh) sesuai dengan posisi Sang Hyang Sangkara dalam Dewata Nawasanga. Kemudian sasap dan gantungan diikatkan kebatang tumbuhan dan dihaturkan bubur sumsum. Lalu “atag”, ketok-ketok sebanyak tiga kali dengan pisau tumpul(tiuk puntul) sambil mengucapkan mantra sebagai berikut :

Kaki-kaki, dadong dija? Dadong jumah gelem kebus dingin ngetor. Ngetor ngeed-ngeed-ngeeed-ngeeed, ngeed kaja, ngeed kelod, ngeed kangin, ngeed kauh, buin selae lemeng galungan mebuah pang ngeeed
Artinya :
Kakek-kakek, nenek dimana? Nenek dirumah sakit panas mengigil. Mengigil lebatt-lebatt-lebattt-lebattt, lebat di utara, lebat di selatan, lebat di timur, lebat di barat, lagi dua puluh lima hari hari raya galungan berbuahlah dengan lebat

Mantra diatas adalah sebagai wujud pengharapan dan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala anugerah beliau berupa tumbuh-tumbuhan yang subur dengan batang yang kokoh dan daun serta buah yang lebat sebagai sumber kemakmuran.

Sumber : phdi.or.id

Facebook Comments