Banyu Pinaruh

Banyu Pinaruh : Pembersihan Diri Dengan Ilmu Pengetahuan

Sehari setalah hari raya Saraswati, umat Hindu di Bali melaksanakan prosesi Banyu Pinaruh. Prosesi ini masih berkaitan dengan ilmu pengetahuan seperti halnya pada hari raya Saraswati. Hari pelaksanaan prosesi ini adalah Redite Paing Sinta (Minggu Paing Wuku Sinta).

Makna Banyu Pinaruh Menurut Hindu

Banyu Pinaruh berasal dari kata Banyu yang berarti Air(kehidupan), dan Pinaruh berasal dari kata pinih weruh(ilmu pengetahuan). Sehingga Banyu Pinaruh dapat dimaknai sebagai hari dimana kita memohon sumber air pengetahuan.

Di Bali, Banyu Pinaruh dilaksanakan dengan melakukan pengelutakan/pembersihan diri. Pengelukatan dapat dilaksanakan di sumber-sumber air suci, pantai, atau dengan Air Kumkuman. Salah satu yang mendasarai pelaksanaan pengelukatan pada hari raya ini adalah sloka dalam Kitab Menawa Dharmasastra Buku V. 109 yang menyebutkan :

Adbhirgatrani suddhayanti mana satyena suddhayanti, Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti

Artinya : Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran, jiwa manusia dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata, kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar.

Pelaksanaan dan Upakara

Dapat dikatakan bahwa pada hari Banyu Pinaruh, adalah hari yang sangat baik untuk memohon pembersihan diri. Pembersihan ini bukanlah berkeramas atau mandi di pantai atau sumber mata air seperti pada hari-hari biasanya. Prosesi ini bertujuan untuk membersihkan kekotoran dan kegelapan pikiran (awidya) dengan ilmu pengetahuan. Seperti yang disebutkan dalam Bhagavad Gita IV.36 :

Api ced asi papebhyah, sarwabheyah papa krt tamah, sarwa jnana peavenaiva vrijinam santarisyasi

Artinya : walau engkau paling berdosa di antara manusia yang memiliki dosa, dengan perahu ilmu pengetahuan, lautan dosa akan dapat engkau seberangi.

Dalam Babad Bali disebutkan pelaksanaan Banyu Pinaruh adalah sebagai berikut :

  1. Asucilaksana. (Mandi, Keramas dan Berair kumkuman pada pagi Hari).
  2. Upakaranya : Diaturkan labaan nasi pradnyan, jamu sad rasa dan air kumkuman. Setelah diaturkan pasucian/ kumkuman labaan dan jamu.
  3. Dilanjutkan dengan nunas kumkuman, muspa, matirta, nunas jamu dan labaan Saraswati/ nasi pradnyan barulah upacara diakhiri / lebar.

Demikian penjelasan tentang Makna Banyu Pinaruh dan pelaksanannya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk semeton Dewata. Jika ada pertanyaan, silahkan berikan komentar pada artikel ini. Jangan Lupa Like dan Follow Fanpage Info Dewata.

sumber : Babad Bali, dan sumber berbagai lainnya.

Facebook Comments