Tumpek Wayang

Tumpek Wayang : Memahami Lebih Dalam Ajaran Hindu Bali

Tumpek Wayang adalah salah satu dari 6 jenis Tumpek yang ada dalam Agama Hindu, khususnya di Bali. Tumpek Wayang jatuh setiap 6 bulan sekali pada saat akhir Saptawara bertemu dengan akhir Pancawara dan pada Wuku Wayang.

Pada tumpek ini, Dewa Siwa mengutus Sanghyang Samirana turun ke untuk memberikan kekuatan kepada manusia yang nantinya sebagai mediator dalam menjalankan aktifitasnya. Ini bertujuan untuk menyelamatkan dunia yang diliputi dengan kegelapan, kebodohan, keangkuhan dan keangkaramurkaan. Mediator in juga disebut dengan Dalang atau Samirana. Sang Hyang Iswara memberikan kekuatan kepada seorang Dalang sehingga membangkitkan cita rasa seni dan daya tarik yang mampu memberikan sugesti kepada orang lain yaitu penontonnya.

Pada hari Saniscara(Sabtu) Kliwon Wuku Wayang ini, adalah Puja Walinya Sang Hyang Iswara. Tumpek ini bertujuan untuk mensyukuri anugerah Sang Hyang Iswara yang telah memberikan pencerahan kehidupan di dunia serta mampu membangkitkan daya seni dan keindahan. Bagi para pelaku seni, dilaksanakan upacara persembahan yang bertujuan untuk mendapatkan anugerah yang sungguh-sungguh dalam menciptakan majunya kesenian dan kesusastraan.

Banten suci yang dipersembahkan pada saat tumpek wayang adalah Suci, Peras, Ajengan, Sedah Woh, Canang Raka, Pesucian. Upakara ini dipersembahkan kepada Bhatara Hyang Guru. Bebantenan ini dapat berbeda disetiap daerah menyesuaikan dengan dresta setempat.

Mitologi Terkait Tumpek Wayang

Agama Hindu di Bali adalah agama yang berdasarkan Sastra yang dibalut dengan budaya. Sama halnya seperti Tumpek Wayang, ada mitologi yang dituangkan dalam lontar untuk menceritakan kisah yang berkaitan dengan Tumpek Wayang.

Secara mitologis wuku Wayang dianggap sebagai salah satu wuku yang tercemar/kotor, karena pada waktu inilah lahirnya seorang raksasa bernama Dewa Kala sebagai akibat pertemuan (sex relation) yang tidak wajar antara Batara Siwa dan istrinya, Dewi Uma. Mereka melakukan tidak pada tempatnya yang disebut kama salah. Dalam Lontar Sapuh Leger, Dewa Siwa memberikan izin kepada Dewa Kala untuk memangsa anak yang dilahirkan pada wuku Wayang (cf. Gedong Kirtya, Va. 645). Berdasarkan hal tersebut, masyarakat Hindu di Bali yang memiliki anak yang lahir pada Wuku Wayang melaksanakan upacara bebayuhan Wayang Sapu Leger.

Facebook Comments